Seekor kupu-kupu cantik dari negeri antah berantah yang (sedikit) gila masuk dan terbang untuk menyambangiku hampir tiap hari. Di kamarku yang meski sempit, namun tertata cukup rapi ini. Sayapnya terkoyak, mungkin dia meminta sedikit perhatian dariku dan seolah berkata ‘mohon pulihkan aku..’. Dia terbang lemah dan berputar-putar tidak jelas, sesekali juga hinggap di bekas botol Robinson Vodka berisi bunga kering yg terpajang di meja kamarku. Entah kenapa, disitulah tempat favoritnya, - selain di mug bersablon Kurt Cobain asal-asalan yang juga berada disitu.
Pastinya aku tidak punya trah Nabi Sulaiman yang mengerti bahasa binatang. Aku juga tidak punya keahlian memulihkan binatang, karena aku bukan dokter hewan. Namun indera hatiku yang tertajam mengatakan kalau ini tidak salah. Kupu-kupu gila ini memang datang untuk itu. Dia ingin dipulihkan, - dibuat menjadi lebih baik, - atau setidaknya hanya ditunggui sampai luka di sayapnya bisa pulih dengan sendirinya seiring waktu. Salah seorang sahabatku pernah mengatakan kalau kehadiran seseorang, - apalagi itu orang yang kita sayangi memang secara psikologis bisa membantu percepatan masa penyembuhan. Dari sini lantas aku menarik sebuah analogi ngawur, ‘..Kupu-kupu gila ini jatuh cinta padaku?.., entahlah..’.
Kupu-kupu gila ini lantas bermetamorfosis menjadi monster kupu-kupu yang lebih gila lagi. Dan perlahan-lahan aku mulai sedikit mengerti bahasanya, mungkin karena aku sudah mulai terbiasa. Dia berceloteh tentang situasi mengerikan di negeri antah berantahnya. Negeri yang penghuninya hanya kupu-kupu dan kurcaci kejam. Negeri dimana cinta dan kasih sudah tidak dihargai lagi. Perang dan saling bunuh jadi pemandangan yang sudah tidak asing lagi tiap hari. Perang antara kupu-kupu melawan tirani kerajaan kurcaci kejam. Nyawa kupu-kupu benar-benar tidak dihargai, seperti nyawa binatang. Tapi bukankah kupu-kupu juga binatang?, entahlah..
…
…
Kupu-kupu gila ini perlahan mulai pulih. Sayapnya yang terkoyak mulai berubah bentuk menjadi sayap yang sangat cantik. Dan gantian aku yang kini malah mulai ‘jatuh cinta sungguhan’ kepadanya. Sebuah perasaan yang bodoh..!!, kupu-kupu ini tidak mungkin menjadi manusia sungguhan. Secantik apapun dia dan sayapnya, parameternya tetaplah binatang, bukannya manusia. Sangat mustahil kalau aku bisa bersanding dengannya. Parahnya, kemampuanku untuk sedikit mengerti bahasanya ternyata mulai meluntur, kupu-kupu gila ini kembali berbicara dengan bahasa yang tidak aku mengerti, naluriku yang semakin ngawur semakin keras berteriak.. ‘dia jatuh cinta padamu..!!’. Aku muak dengan suara-suara ini.!!.
Dan hanya butuh 16 hari sejak waktu dimana dia pertama kali datang ke kamarku untuk menungguinya sampai benar-benar pulih dan bisa menjadi kupu-kupu gila yang secara kasat mata terlihat ‘sehat’. Di hari ke-17, dia hanya masuk ke kamarku. Tanpa hinggap di tempat favoritnya lagi, - bekas botol Robinson Vodka yang kuisi bunga kering atau mug Kurt Cobain ku itu. Dia masih tetap terbang berputar-putar tidak jelas, namun kali ini seolah mengatakan ‘.aku pergi sekarang.., terimakasih untuk semuanya selama ini..’. Aku tidak mau menghalanginya, kubiarkan dia pergi, meski aku sangat-sangat tahu kalau negeri antah berantah masih terlalu berbahaya untuknya. Namun aku yakin dia bisa menjaga diri. Pergi saja lah kupu-kupu gila.., seburuk-buruknya negeri antah berantah, disitulah sejatinya tempat tinggalmu. Dan aku akan selalu merindukan kamu..
Hari ke-18, aku sendirian. Kadang berkhayal kupu-kupu gila itu datang lagi. Perasaan rinduku ternyata cukup kuat untuk menampar ketegaranku..!!!
…
….
(dari sebuah robekan catatan, menjelang final piala dunia 2002)