reza heikal


Realita, Cinta, dan Rock n Roll..!!!
November 18, 2007, 1:50 pm
Filed under: Uncategorized

 Pulang dri seharian bantu2 motret prewed di Batu, sampai di kost tenaga saya hanya tersisa sepersekian persen. Tadinya ada niatan nerusin save2an Football Manager saya yg skrg sdh sampai di tahun kedua. Hebat ya, Inter Milan dibawah kepemimpinan saya akhirnya bisa menguasai Eropa. Berkat saya pula Inter Milan kini punya Andrea Barzagli, Carlos Alvarez, dan Gilberto Silva. Ditambah Ianis Zicu yg merupakan produk asli, Inter Milan yg saya pimpin benar2 jadi tim yg menakutkan.. :D.

Baru mulai mengklik shortcut Football Manager, ternyata tangan saya malah tergelincir ke Explorer. Hmm, ada ‘Realita Cinta dan Rock n Roll’.., film lumayan lama yg sampe skrg msh saja gak bosen saya tonton berkali2. Film dimana Ipang dan Didit Saad (ex Plastik) ber reuni menggarap soundtracknya…

Film yg bisa dibilang ‘berani beda’, disaat film Indonesia mulai menjurus ke arah yg busuk-busuknya.. Sekedar penyegar ingatan, berikut ada review yg ditulis oleh 4 orang dari Sinema Indonesia, - situs yg banyak disinyalir anggotanya adlh sindikat gay pimpinan Joko Anwar itu.. :D

….

….

Waktu kami mendengar ada yang akan bikin film dengan judul Realita, Cinta, dan Rock ‘n Roll, mata kami berbalik 180 derajat sampai kelihatan putihnya saja. Setelah Joan Baez, Bob Dylan, (dan kesucian kata “indie”?) di-disgrace oleh beberapa film Indonesia, kami tidak sanggup lagi menyaksikan rock direndahkan di bioskop. Ternyata kami salah besar. Realita, Cinta, dan Rock n Roll yang berani memakai kata “rock ‘n roll” yang sangat berat tanggung jawabnya, dengan gemilang berhasil mengharumkan kata suci itu. Jiwa film ini bener-bener rock ‘n roll!

Ceritanya kira-kira seperti ini: dua orang muda bernama Nugi (Herjunot Ali) dan Ipang (Vino G. Bastian) menjalani hidup mereka seperti layaknya kita semua: mimpi buat punya band sekalipun kita sucks, berpikir bahwa orang tua adalah makhluk yang paling aneh di bumi, dan lari-lari di jalan dengan hanya memakai celana dalam (kalau anda belum pernah ngelakuinnya, lakuin sekarang deh). Di sinopsis, cerita yang ditulis sendiri oleh Upi mungkin kedengarannya nggak jelas dan dangkal. Tapi bukan berarti nggak punya tujuan. Malah, ini adalah film lokal tentang anak muda yang paling jujur, berani, liar, dan sama sekali nggak pretensius.

Vino dan Junot menampilkan performance yang paling bersinar yang pernah ditunjukkan aktor muda, mungkan sepanjang sejarah film Indonesia. Dan menurut kami, Nadine Chandrawinata juga memberikan penampilan yang sangat pas untuk karakternya sebagai cewek bernama Sandra yang akan menguji persahabatan mereka. Kehadiran karakter Sandra memberikan warna lebih dalam film ini.

Karakter-karakter lain yang sangat unik termasuk seorang ibu hippie new age pengikut Hare Khrisna (Sandy Harun) dan bapak transeksual peminat salsa dan tae kwon do (Barry Prima) menjadikan film ini selalu penuh dengan kejutan dan scene-scene yang sangat memorable. Tidak pernah kami tertawa terbahak-bahak menonton film Indonesia karena filmnya bener-bener lucu. Biasanya kami tertawa terbahak-bahak karena filmnya bodoh. Film ini sedikit goyang dalam pernceritaan di tengah-tengah (ini yang membuat film ini dapat 4 bintang dan bukan 5). Tapi segera menghentak kembali mendekati akhir.

Realita Cinta dan Rock ‘n Roll akan kami catat sebagai salah satu film terpenting dalam film sejarah film Indonesia. Sejauh yang kami ingat, ini adalah film Indonesia pertama yang politically-incorrect. Tapi film ini juga berkelas, ber-taste, dan wooo hooooo… WE LOVE IT! (Dodi Mahendra)


——————————————

Sementara beberapa sutradara cowok mencoba membuat film cowok tapi ujung-ujungnya cengeng dan cemen, seorang sutradara perempuan berhasil ngegambarin kehidupan anak-anak cowok dengan nge-geber. Jangan mengharapkan ada dialog-dialog filosofis atau puitis di film ini. Yang ada cuma dialog yang kita dengar sehari-hari. Film ini punya big balls and bigger heart. Upi is a genius. YOU GO, GURL! (Nanda Meilani)

—————————

Realita, Cinta, dan Rock ‘n Roll bukan saja membuat saya berbaikan lagi dengan Dodi, tapi juga membuat kami percaya bahwa film Indonesia punya masa depan. Yang cerah banget! Kalau saja kita punya lima sutradara seperti Upi di Indonesia, dan setiap orang bikin dua film setahun, perfilman Indonesia akan berada di safe zone. Kenyataan bahwa Realita, Cinta, dan Rock a€~n Roll adalah film kedua Upi setelah 30 Hari Mencari Cinta yang ngeganggu, membuat kami berharap supaya sutradara-sutradara kita yang film pertamanya sucks akan menghasilkan film kedua dan seterusnya yang hebat (maaf, Koya Pagayo dan sutradara Psikopat, mungkin tidak termasuk).

Film ini lebih dari layak buat disejajarkan sama film-film coming-of-age penting kayak Fast Times at Ridgemont High, Lucas dan The Breakfast Club karena berhasil menangkap jiwa rebel anak-anak muda. Upi menunjukkan kalau dia adalah filmmaker Indonesia yang brilian dan juga asik.

Sampai di sini saja review saya karena saya mau nonton Realita Cinta dan Rock ‘n Roll lagi di bioskop. Ini adalah salah satu film terbaik yang pernah dibuat filmmaker Indonesia. (Ferry Siregar)

——————————————-
You want to go watch this new movie that everyone says is so good you’d be totally disrespectful to that mystery critics call the “Indonesian film industry.” You decide to go one afternoon, the three o’clock matinee, though no one calls it that anymore, at Kelapa Gading 21. This is an ABG movie, you think, and you want to see it where ABGs would see it, even though you’re like, pushing thirty.

And man, what wouldn’t you kill to be ABG again! In the middle of answering calls on their mobiles, making out, running back and forth to what you think would be the toilet but turns out to be the lobby to pick up more late-arriving friends, these kids actually found time to laugh at all the jokes in the screen, cry slow river of tears at all the sad moments and just sit still not saying anything whenever what appears on the screen tells them to sit still and don’t say anything just yet this is serious. We’ll give you more jokes soon. They look so happy.

This is rare, you think. The last time you went to an ABG movie, Garasi, the kids were laughing at the sad scenes, cried at the try-hard jokes and the try-hard clothes and slept through all the other bits.

You like the movie too. You think maybe it’s the kids’ enthusiasm that’s infecting you. But then you realize, after the first 20 minutes you don’t even hear the kids anymore. Probably around the time Tino Saroengallo in his bad hippie wig says “Boleh juga, boleh juga, a€¦” over and over again at the dinner table and you think, this whole Hare Krishna parody is totally lame, but it’s true, my dad talks like that at the dinner table, and what the fuck, why am I laughing?

You’re starting to forget yourself. You stop hearing the critic inside you telling you things like, this boy-girl-boy triumvirate is so Y Tu Mama Tambien, Vino and Junot, these kids look so Kids!, this looking for your dad but hello! he’s now a transvestite! thing is totally ripped off from Almodovar.

No, now you just want to be Vino G., cruising around all the fun of adolescence in his restored vintage Toyota Premiere. Get your belly to go six-pack like his the way he does it, smoke endless chains of cigarettes. Grow your fringe and cut it at Firman’s, tell him to give you the Vino G. Magnificent Fringe, get it to completely cover your left eye like a patch, so you can aim better at all life’s fun.

Sometimes the lime-faced critic inside you tries to get your attention again. Whispering things like hey you fun guy don’t you think it’s so typical that Barry Prima gets his respect back only after he reprises Jaka Sembung and kungfu-kicks a thief into submission? What about when Junot says that the only kind of family he knows is one that has a father and a mother, not a middle-aged transvestite with a taste for salsa (the dance not the condiment) and flower-arrangement? Isn’t all this just so typical, so not queer-friendly?

And you say shut up you irritating prick. Maybe you’ve seen too much Almodovar. This is Jakarta, not Barcelona. These are high-school kids who can’t even stand five minutes of Home Ec., not geeks in your Queer Politics 6969. They probably think Germaine Greer was in Anal Highway 3. I too wanted Junot to say something nice like don’t worry mama I don’t care what gender you choose in life and bury his head in Barry Prima’s warm bosom, but when he didn’t I was actually grateful to Upi (Avianto, the director. ed.) for putting the real over the ideal. And for choosing to tell a story rather than lecture me. (Mikael Johani)

….