reza heikal


Software Pengirim Iklan Baris Massal & E-book Gratis
January 16, 2008, 4:46 pm
Filed under: Uncategorized

Butuh Software Pengirim Iklan Baris Massal?, ada juga beberapa e-book gratis tentang Internet Business yang mungkin akan sangat berguna bagi rekans sekalian yang berminat di bidang ini. Lagi-lagi saya akan memberikannya gratis. Caranya?.., mudah koq. Tulis saja comment pada salah satu postingan di blog ini dan saya akan kirimkan ke email anda. GRATIS!!.. :)



Matinya Penjual Menjes
January 16, 2008, 4:41 pm
Filed under: Uncategorized
Ada yang nggak tau apa itu Menjes? Cari info di wikipedia! Itu kalo ada.. Hehehe

Diketahui:
Biaya untuk memproduksi 10 pieces menjes adalah Rp. 800,- Dan Penjual Menjes menjual per piece Rp. 100,- Maka dia dapet keuntungan Rp. 20,- per piece.

Umpamanya:
Dalam 1 hari dia memproduksi 1000 pieces menjes dan semuanya laku, berarti dia butuh biaya Rp. 80.000,- per hari untuk dapet Rp. 20.000,- keuntungan.
Bener gitu?
Kalo bener, jika dalam 1 bulan ada 30 hari (30.000 pieces menjes), berarti butuh Rp. 2.400.000,- untuk dapet keuntungan Rp. 600.000,-

Bayangkan:
Jika perusahaan seperti Microsoft® nyemplung juga ke bisnis per-Menjes-an. Dengan strategi bisnis bikin menjes yang dikemas per 10pcs (tentunya dengan kemasan plastik yang keren dan Quality Control yang baik, ongkos kemasnya anggep aja Rp. 50,-)
Jadi harga MS-Menjes isi 10pcs adalah Rp. 850,- Dan dijual dengan harga Rp. 800,-!
Ah rugi dong!?

Yuk di-itung ruginya:
Harga jual Rp. 800,- tapi harga produksi Rp. 850,- berarti rugi Rp. 50,- per pak isi 10pcs. Kalo dalam 1 hari MS memproduksi 100 pak, dalam 1 bulan mereka bikin 3000 pak. Ruginya adalah Rp.150.000,- per bulan.
Jadi dalam setahun MS harus mensubsidi divisi Menjes Rp. 1.800.000,- (yang gak berpengaruh apa-apa terhadap kondisi keuangan MS)

Bayangkan lagi:
Kira-kira ketika kita pengin makan menjes, konsumen beli yang mana? Menjes Rp. 1000 isi 10 tanpa kemasan atau MS-Menjes Rp. 800,- dengan kemasan keren isi 10pcs?

Penjual Menjes jelas gak berani head-to-head lawan MS-Menjes! Siapa mau jual rugi? Anggap aja MS berencana jual dengan strategi itu selama 5 tahun. Butuh uang Rp. 9juta-an untuk subsidi selama 5 tahun. Sementara Penjual Menjes udah mati duluan. Baru kemudian harga MS-Menjes di normalkan..

Kenyataannya:
Ada tender Operating System dan sepertinya dimenangkan oleh MS dengan harga jutaan dollar! (Kayaknya lebih deh). Coba kalo ambil seperempat-nya aja, untuk pengembangan Open Source karya anak sendiri (IGOS Nusantara?). Kan lebih baik tuh. Memang untuk kualitas masih kalah jauh, tapi kenapa nggak dicoba? Toh ga ada ruginya!

(dari blognya Bengs Rahady)



Bila Sang ’Übermensch’ Marxis
January 16, 2008, 3:45 pm
Filed under: Uncategorized

Sebuah edisi komik Superman pernah menampilkan Superman sebagai seorang komunis. Sebuah tandingan, karena selama ini dalam film serta serial televisi, Superman terlalu digambarkan merepresentasikan pandangan dunia Amerika.

Manusia baja itu menjadi anak revolusi. Tanda S pada dadanya yang bidang diganti dengan lambang palu dan arit. Di Lapangan Merah, ia memberi salam Bolshevik: mengepalkan tinju terhadap Amerika. Ia menjadi lingkaran terdalam Kremlin, anak emas Stalin. Dan Stalin menatingnya sebagai penerus pimpinan partai, membuat karier Nikita Kruschev mati.

Mark Millar, komikus asal Glasgow itu, pada Desember 2003 meluncurkan sebuah edisi Superman yang kontroversial: Superman: Red Son. Diterbitkan atas nama Elseworlds, bagian dari DC Comic, yang khusus memberi ruang bagi kisah-kisah superhero di luar arus utama. Putra Merah yang terdiri tiga jilid itu mungkin subversif bagi para fans konservatifnya.

Di situ dikisahkan Superman tumbuh besar di Rusia. Ia menjadi bagian Partai Buruh dan penghayat Marxis sejati. Pembuatan komik ini bertolak dari pertanyaan kecil: mengapa dari tanah Rusia tak pernah lahir superhero satu pun? Dari Amerika terus-menerus, dari generasi ke generasi, muncul superhero baru seperti Mighty Thor, Captain America, Spider Man, Wonder Woman, Fantastic Four. Tapi tak pernah terdengar muncul seorang superhero dari Moskow ataupun Vladivostok.

Memang, siapa saja yang pernah ke Rusia akan merasakan bahwa komik adalah barang cukup langka. Bila kita menyusuri pusat-pusat turis di Moskow ataupun St. Petersburg, kios-kios penjual majalah penuh tanda-tanda perubahan. Majalah Playboy atau Rolling Stone mudah didapat, tapi komik jarang. Tradisi perbukuan Rusia luar biasa. Tradisi fabel, tradisi teater boneka tidak kalah dari marionet dan folklor Eropa dan Amerika. Inovasi film-film animasi juga dahsyat. Tapi memang tradisi cerita grafis atau komik anehnya miskin di sana.

Hal ini sedikit banyak mungkin mempengaruhi ekspor imaji kebudayaan populer. Pada 1950-an di era Perang Dingin, kita mafhum terjadi kompetisi ideologi antara Amerika dan Soviet, termasuk soal angkasa luar. Bila di Amerika ada Neil Armstrong, di Soviet ada Yuri Gagarin. Superhero Amerika sedikit banyak menanamkan fantasi pada anak-anak (atau bahkan masyarakat umum) bahwa mereka adalah bangsa terdepan dalam perlombaan antariksa dan pantas menjadi “bapak dunia”.

Atas dasar itu mungkin Mark Millar lalu menerbitkan Red Son. Kisahnya membolak-balik cerita konvensional Superman. Suatu hari, dari planet nun jauh sana, di Krypton, sebelum planet itu meledak, ilmuwan Jor-El melontarkan roket berisi anaknya yang masih bayi, Kal-El. Pada 1938, roket itu mendarat di bumi: bukan di ladang jagung Smallvile, Kansas, Amerika, milik pasangan Jonathan dan Martha Kent (sebagaimana dalam kisah asli Superman), melainkan di sebuah pertanian kolektif di Ukraina.

Tentu saja, waktu itu Ukraina dengan ibu kotanya Kiev masih bagian dari Soviet. Mengapa Mark memilih lokasi Ukraina? Mungkin karena nama Ukraina mengingatkan orang pada kecelakaan nuklir Chernobyl. Mengingatkan bahwa Stalin, lima tahun setelah peristiwa Hiroshima, memerintahkan ilmuwan-ilmuwannya bereksperimen dengan nuklir di daerah-daerah seperti Kazakhstan dan Ukraina. Di pedesaan Ukraina itulah, oleh keluarga petani, Superman diasuh dengan komunisme. Saat kanak-kanak sedikit demi sedikit kekuatannya terlihat. Pada 1950-an anak desa pergi ke Moskow menemui Joseph Stalin.

Bersama Stalin, ia giat menyebarkan komunisme. Ia percaya bahwa ideologi ini akan mendatangkan keadilan bersama. Sebuah pemihakan etis. Ia berpendapat bahwa kekuatan raksasanya harus diabdi-kan untuk membantu terciptanya sebuah sistem Marxisme internasional.

Dalam komiknya Mark Millar tidak mengetengahkan bagaimana reaksi Superman akan banyak pembunuhan brutal yang dilakukan Stalin. Tidak juga sikapnya melihat adanya ribuan kamp kerja paksa Gulag–seperti pernah ditulis Solzhenitzyn, berdiri mulai dari sudut kota sampai kawasan tundra, daerah beku, dingin, dan tandus Siberia. Menurut Mark, Superman tak ada hubungannya dengan semua itu. Ia semata-mata memenuhi panggilan welas asih keadilan murni.

Kita dapat lihat di dalam situs Mark Millar: “Superman tak punya hubungan dengan Gulag, sama seperti Superman asli yang juga tak terlibat dengan bom-bom Amerika di Vietnam, Jepang, atau Irak,” katanya.

Di bawah panduan Kamerad Superman, Soviet menjadi makin melebarkan satelit-satelitnya. Dalam era perang dingin, Superman menjadi peluru kendali utama Soviet yang memperluas Pakta Warsawa. Superman aktif melakukan patroli ke kawasan-kawasan sosialisme internasional. Hampir semua negara di dunia tunduk dalam panji-panji USSR. Pada 1999, tinggal Amerika dan Cile yang masih merdeka. Keduanya pun berada di jurang keruntuhan.

Pacar Superman bukan Louis Lane, tapi Diana, seorang diplomat Soviet, yang kemudian berubah menjadi Wonder Woman. Mereka bertemu pada sebuah pesta diplomatik. Superman sendiri bukan seorang wartawan, melainkan aktivis partai.

Doktor Lex Luthor, yang dalam kisah sehari-hari adalah musuh bebuyutan Superman (dalam film Superman Returns ia nyaris membunuh Superman) justru menjadi penyelamat Amerika. Ilmuwan yang gemar membaca Il Principe-nya Machiavelli ini bekerja di pemerintahan Amerika Ia mengepalai laboratorium S.T.A.R (Science and Technology Advanced Research). Bersama Jimmy Olsen–dalam kisah asli, Olsen adalah fotografer Daily Planet–agen rahasia CIA, ia berusaha mati-matian menghancurkan Superman. Suatu saat Nixon terbunuh oleh seorang simpatisan komunis, Kennedy menjadi presiden. Tapi Amerika tetap gagal menaklukkan Superman. Lex Luthor akhirnya memenangkan pemilihan umum dan ia menggantikan Kennedy menjadi Presiden Amerika. Ia kemudian menikah dengan Lois Lane.

Ada banyak taktik Luthor untuk menghabisi Superman. Suatu kali ia membuat kloning Superman. Lain kali ia menyerang Staliningrad (kini St. Petersburg). Ia tahu Superman sibuk di Moskow. Ia mengirim serangga raksasa ke Staliningrad. Dan sebelum Superman tiba, ia mampu menyusutkan Staliningrad hingga masuk ke dalam sebuah botol kecil. Superman tidak bisa mengembalikan warga Staliningrad seperti sediakala. Ia merasa sangat bersalah.

Di lain pihak di Kremlin terdapat intrik internal. Pyotr Roslov, anak haram Stalin, yang menjadi Kepala KGB, polisi rahasia Soviet, selama ini cemburu terhadap kedekatan Superman dengan Stalin. Ia meracun Stalin, mengguncangkan kedudukan Superman di partai. Pyotr memiliki masa lalu yang sewenang-wenang. Suatu kali ia pernah menembak para pembangkang Soviet yang menempel poster antipropaganda Superman. Salah satunya ia membunuh sepasang disiden di depan anak mereka, dan anak itulah kelak menjadi Batman..

Batman tumbuh menjadi seorang anarkis yang tak mau tunduk pada aturan-aturan Soviet. Walaupun begitu, ia menerima tawaran Pyotr menangkap Wonder Woman dan menyekapnya di sebuah benteng rahasia di Siberia untuk memancing Superman. Superman dijebak untuk dapat ditembak dengan sinar matahari merah yang bisa menyerap kekuatannya. Ini membuat Soviet jatuh ke dalam chaos.

Umberto Eco, sastrawan, jauh di tahun 1972 pernah menulis The Myth of Superman. Superman baginya adalah obsesi ideologi Amerika untuk mempertahankan status quo. Walau Superman bagaikan hamba hukum yang menggunakan seluruh kehebatannya untuk melawan kejahatan yang membahayakan pemerintah Amerika, ia tidak berusaha keras menggunakan kekuatannya untuk melakukan perubahan kondisi sosial yang justru menjadi sumber terjadinya kriminalitas, kemiskinan, dan meluapnya gembel-gembel di jalanan.

Itu mungkin yang membedakan wataknya dengan Superman kelahiran Soviet dalam imajinasi Mark Millar di atas. Superman kita lihat juga bukan model Dirty Harry, detektif dalam film Clint Eastwood. Harry sadar bawah institusi kepolisian Amerika korup. Harry membuang lencananya sebagai tanda kemuakannya atas sistem hukum. Ia menjadi ex cop, seorang pembelot atau renegade.

Banyak yang menduga gagasan Jerry Siegel dan sepupunya Joe Shuster saat menciptakan Superman pada 1932–zaman tatkala Amerika dilanda depresi besar–berangkat dari gagasan Nietzsche dalam bukunya Thus Spoke Zarathustra. Dari Übermensch, seorang adimanusia.

Adimanusia dalam pengertian Nietzsche adalah seseorang yang berani melakukan transvaluasi–membongkar semua nilai. Sistem nilai lama, menurut dia, hanya menghasilkan manusia lemah, manusia menderita. Adimanusia adalah seorang yang berpandangan bahwa kualitas moral manusia saat ini tak memadai untuk menangani banyak masalah. Übermensch dalam Superman mungkin lebih dalam arti fisik.

Maka dari itulah Superman Soviet karya Mark sesungguhnya adalah olok-olok untuk Bush dan doktrinnya, pre-emptive retaliation. Bush menempatkan dirinya seolah-olah sebagai penyelamat dunia. Saat datang ke Amerika, S-uperman Soviet sampai menyobek Star Spangled Banner dan menendang pintu Gedung Putih.

Sebuah subversi memang diperlukan untuk melihat persoalan dari sisi lain. Tafsir ekstremis lain dalam seri komik Superman adalah Kingdom Come, yang terbit pada 1996. Satu makhluk bernama Magog mengacau kota. Ia membunuh warga dan menewaskan para wartawan Daily Planet termasuk Lois Lane. Kehilangan Lois Lane membuat Superman patah semangat. Ia merasa sudah terlalu tua. Lalu menyerahkan perlawanan terhadap Magog ke generasi superhero selanjutnya. Ia lalu menyepi di tempat tinggalnya di Kutub Utara.

Tapi superhero generasi baru, menurut Superman, sering sembrono, acak-acakan dan tidak hormat pada hukum. Superman kemudian menghimpun kembali Justice League America yang terdiri dari Wonder Woman, Flash, Hawk Man, Green Lantern, dan Aquaman. Ia mendirikan sebuah pusat penghukuman, sebuah Gulag di kawasan tak bertuan di Kansas. Inilah tempat untuk mendidik mereka yang tak mau bergabung dengan Justice League America. Tapi hal ini tak disetujui generasi muda superhero.

Meski ditulis sebelum tragedi 9/11 2001, komik ini mampu mencerminkan perilaku paranoid Amerika. Gulag dengan mudah bisa kita asosiasikan dengan Guantanamo. Superman adalah Bush sebagai sosok intervensionis. Batman sendiri dalam kisah Kingdom Come menganggap idealisme Superman sudah usang. Ia menganggap pikiran-pikiran tentang adimanusia tak cocok. Ia lalu menghimpun superhero yang hanya memiliki kekuatan-kekuatan alamiah seperti Green Arrow, Wild Cat, dan Creeper.

Tafsir Superman dalam komik terbukti jauh lebih radikal ketimbang film-filmnya. Dari film terbaru Superman yang agak mengejutkan adalah ketika Superman ternyata memiliki anak, buah percintaan dengan Louis Lane. Namun, di situ Superman tetap digambarkan sebagai sosok yang kesepian. Bila tak jenjam ia akan melayang ke langit, menembus awan. Membubung jauh keluar dari orbit bumi, memejamkan mata, membiarkan dirinya dibuai ruang kosong, dininabobokan awang-awang. Dalam kesunyian alam semesta, ia melihat bumi dari kejauhan.

Bagian terbagus adegan ini adalah justru di kesunyian itu ia mendengar banyak jeritan dari bumi. “Aku mendengar seluruh permintaan tolong dari berbagai belahan bumi.” Ia artinya menempatkan diri sebagai warga dunia. Bukan hanya sebagai seorang American Loner. Ia seharusnya berada di banyak kawasan dunia, meski tak harus menjadi seorang yang suka campur tangan terhadap urusan orang.

Pada titik ini dari Soviet kita bisa ingat sebuah serial Gundala karya Hasmi. Suatu kali Clark Kent dan Bruce Wayne secara terpisah wisata ke Yogya. Keduanya tertarik pada promosi turisme Yogya. Mereka plesiran ke Parangtritis, nonton wayang kulit, nonton ketoprak, jalan-jalan di Malioboro.

Tiba-tiba, ada makhluk aneh muncul. Mau tidak mau, walau masih di luar negeri Clark Kent mengubah diri menjadi Superman dan Bruce Wayne menjadi Batman. Tapi mereka tak bisa lancung, pamer kekuatan, sebab di Yogya ada Gundala dan Godam. Mereka takzim terhadap kehebatan Gundala dan Godam.

Hal yang sama terjadi ketika ia bersama anggota Justice League America datang ke Jawa Barat dalam sebuah serial karya Kus Bram membantu para superhero kita menaklukkan monster. Karena merasa lebih berpengalaman, saat jagoan-jagoan Amerika itu ingin mengambil alih kepemimpinan, Labah-labah Merah asal Sunda menghardik mereka: Saudara, pergi dan angkat kaki dari negeri ini! Kami tidak menghendaki jagoan macam Anda yang bisanya cuma merusak rencana.

Ada banyak perspektif tentang Superman. Superman boleh menyelamatkan Patung Liberty. Superman pernah menjadi anak emas Stalin dan pemimpin partai buruh dunia. Tapi di Yogya, di Bandung, Superman seperti pernah kehilangan daya Übermensch.

(Dari Majalah TEMPO Edisi. 19/XXXV/03 - 9 Juli 2006)