reza heikal


Ayat-ayat Cinta Vs Amores Perros
March 9, 2008, 9:00 am
Filed under: Uncategorized

Lupakan sejenak Ayat-ayat Cinta nya Hanung Brahmantyo. Silakan tonton Amores Perros (Alejandro Gonzales Inarritu, 2001), film yang dengan nekadnya berkata kalau ‘Love Is Bitch..!!’. Membuat mata kita seolah terbuka, kalau cinta juga bisa menjadi mimpi buruk dan tak selamanya tampil indah. Seperti juga pada 21 Grams & Babel (yg rilis kemudian), di film ini Alejandro Gonzales Inarritu menunjukkan kepiawaiannya merangkai alur cerita yang tidak tertebak, tidak biasa, dan meninggalkan kesan yang mendalam setelah menontonnya. Recommended!, bukan film yang susah dicari koq.. :)  

***

Cinta itu menyakitkan, Cinta itu menderitakan, Cinta itu …brengsek! Tontonlah Amores Perros dan khayalan indah tentang cinta pun akan berubah menjadi mimpi buruk.
Cinta bagi sebagian orang mampu melambungkan perasaan mereka hingga—konon—ke langit ketujuh. Cinta buat sebagian orang adalah satu hal yang sakral hingga tak boleh dinodai sedikit pun. Namun, cinta yang digambarkan sutradara Alejandro Gonzales Inarritu dalam Amores Perros justru menjatuhkan perasaan hingga masuk ke dalam lumpur dan kemudian terinjak-injak hingga tak terasa lagi kesakralannya.


Amores Perros—salah satu unggulan dalam Academy Oscar untuk film asing terbaik tahun 2001—adalah mosaik yang dibentuk dari tiga kisah berbeda dan disatukan oleh sebuah adegan: kecelakaan mobil. Kenyataannya, kecelakaan mobil inilah yang mengawali kisah pahit tentang cinta. Dalam kecelakaan itu, ada Octavio—seorang pemuda pengangguran—di satu mobil dan Valeria—seorang model minyak wangi yang cantik jelita berkaki indah—di mobil satunya.
Ada pula Chivo, seorang gelandangan pencinta anjing yang menyaksikan kejadian naas itu dari awal. Lalu, siapakah Octavio, Valeria dan Chivo? Apa yang mereka lakukan sebelum dan kemudian setelah kecelakaan? Alejandro mengurai satu-satu cerita dalam teknik flashback.


Kisah pertama bertajuk Octavio et Susana. Diceritakan Octavio (Gael Garcia Bernal) yang jatuh cinta pada istri kakaknya yang cantik dan tampak menderita karena perlakuan suaminya, Ramiro, yang kasar. Susana (Vanessa Bauche) memang tampak lemah sebagai istri. Berawal dari rasa kasihan, Octavio menumbuhkan cinta dalam perasaannya. Cinta itu dipupuknya dengan subur. Ia punya impian satu hari akan membawa kakak iparnya dan juga keponakannya menjauh dari Ramiro. Hanya satu halangannya: ia tak punya uang sama sekali.
Namun, nasib berpihak kepada Octavio. Lewat anjingnya, Cofi yang selalu memenangkan adu anjing, Octavio menghasilkan uang yang tak sedikit. Uang itu diberinya kepada Susana sebagai tabungan. Ia hanya mengambil sedikit untuk membeli mobil. Untuk memuluskan jalan, ia minta mitra bertaruhnya untuk menghajar Ramiro. Tak tahunya, karena peristiwa itu, Susana malah pergi bersama Ramiro dan membawa seluruh tabungan Octavio.
Di tengah kekecewaannya, Octavio harus menghadapi tantangan lawannya untuk mengadu anjingnya di tempat pribadi. Cofi sekali lagi menang, tetapi lawan yang telah menyiapkan segalanya menembak Cofi. Octavio tak terima tindakan curang itu lalu menusuk sang lawan dan langsung kabur. Octavio harus kebut-kebutan menghindari anak buah sang lawan yang menuntut balas. Beberapa saat kemudian, Octavio bertabrakan hebat dengan sebuah mobil.


Kisah kedua bertajuk Daniel et Valeria. Daniel (Alvaro Guerrero), seorang eksekutif televisi), berselingkuh dengan model cantik bernama Valeria (Goya Toledo). Satu kali, Daniel memutuskan untuk meninggalkan keluarganya. Ia membeli sebuah apartemen dan akan tinggal di
sana bersama Valeria. Kebahagiaan hidup berdua sudah di depan mata. Namun, cita-cita itu sekejap saja berubah menjadi mimpi buruk ketika Valeria mengalami kecelakaan. Kehidupan pasca-kecelakaan menjadi batu ujian bagi cinta mereka berdua.


Kisah ketiga bertajuk Chivo et Maru. Cerita ini berpusat pada Chivo (Emilio Echevarria), seorang gelandangan tua yang ditinggal di sebuah gudang tak terpakai. Sesungguhnya, beberapa tahun sebelumnya Chivo adalah seorang kaya raya yang kemudian meninggalkan istri dan anaknya demi perjuangan untuk menjadikan dunia ini sempurna. Ia kemudian melakukan teror dengan mengebom beberapa tempat. Akibat perbuatannya, Chivo kemudian dipenjara selama 20 tahun. Sadar bahwa perjuangannya sia-sia, Chivo kini merindukan anaknya yang ditinggalkan.


Jalinan Rapi
Film yang skenarionya ditulis oleh Guillermo Arriaga ini memiliki banyak konflik dan melibatkan banyak karakter. Inarritu menyatukannya dengan ketelitian tingkat tinggi sehingga yang tersaji di layar adalah sebuah film dengan intensitas emosional yang tinggi dan kerapian sekuens cerita yang terjaga.
Pilihan Inarrutu untuk membuka film panjangnya yang pertama ini dengan adegan kejar-kejaran mobil sungguh memancing rasa penasaran penonton. Bayangkan, sebuah adegan yang boleh dibilang bisa menjadi klimaks justru ditempatkan di awal. Penonton disajikan gambar-gambar yang cepat dan cenderung tidak terfokus, orang-orang yang panik, dengan omongan yang sama sekali tidak terpahami.
Sepotong informasi yang ditangkap penonton adalah dua anak muda yang berada di mobil sedan sedang menghindari sekelompok orang yang beringas di sebuah mobil pickup yang mengejar mereka. Dalam mobil itu, ada sesuatu (karena kamera tidak menyorot sesuatu itu secara utuh) yang terluka. Lalu, tiba-tiba ”braak!” dan layar pun menjadi gelap. Rasa penasaran penonton kemudian secara perlahan dituntaskan dengan alur kilas balik sebelum kejadian tersebut. Sebuah pendahuluan yang provokatif.


Selama durasi 154 menit, Amores Perros dipenuhi dengan konflik-konflik yang dibangun dengan sebab-akibat yang saling terkait. Konflik berkembang karena setiap tokoh memiliki karakter yang kuat (dan dimainkan secara total oleh tiap-tiap pemerannya). Bahkan, anjing dalam film ini pun diberi penokohan yang jelas. Cofi milik Octavio dan Ricky milik Valeria berperan besar mempengaruhi masa depan orang-orang yang memilikinya. Octavio mengalami kecelakaan untuk menyelamatkan Cofi. Valeria kehilangan rasa percaya dirinya juga karena kehilangan Ricky.


Yang menarik, sepahit apa pun pengalaman hidup yang dialami masing-masing tokoh, Inarritu tetap menitipkan sebuah pesan moral. Octavio tak bisa mendapatkan cinta Susana meski Ramiro telah tiada karena hal itu terlarang. Daniel harus tetap mendampingi Valeria yang telah kehilangan kaki dan masa depannya karena itu adalah pilihannya. Chivo tak bisa berpaling dari ikatan batin terhadap putrinya meski ia sempat melupakannya. Anak tetaplah anak.


Mengingat betapa penuhnya konflik, beragam karakter, dan panjangnya durasi film, maka Amores Perros jelas menjadi film yang sangat berat. Begitu beratnya hingga film ini tak bisa ditonton hanya dengan niat untuk mencari hiburan. Amores Perros patut menjadi tontonan karena keberanian sutradara bereksperimen dengan bentuk penceritaan, intensitas konflik para tokohnya, dan kerapihan menjalin detail penuturan.

(dari sinarharapan.co.id)


1 Comment so far
Leave a comment

ass. wah ga ku sangka ternyata temen2 alumni stikma rajin juga ngeblog, boleh gabung ya..
arek pacitan.
tengky.. wasalam

Comment by trisutanto May 10, 2008 @ 1:36 am



Leave a comment
Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>